Jumat, 23 Oktober 2015

Jika waktumu saja yang berhenti

Bagaimana jika waktumu berhenti, langkahmu macet ditempat, tubuhmu kaku tak bergerak otakmu layu tak bersahabat dan didukung seluruh tubuhmu yang matisuri acuh tak acuh terhadap tuannya. Hanya hatimu yang merespon jiwamu. Sedangkan yang lain memboikot melakukan kehendaknya sendiri. Hatimu menjerit kenapa kita berhenti di sini?? Ayo lari kejar detik, menit dan jam yang terus melesat di depan kita. Namun kaki tak mau mendengar dia terlalu asik dengan lantai dingin yang terus memikat kaki agar tak beranjak. Hati memohon kepada telinga, mulut dan tangan tapi serempak mereka menolak dengan ketusnya. Hati terus meronta memaksa otak untuk membujuk anggota badan lainnya tapi sungguh disayangkan si otak sedang berseteru dengan hati yang selalu memerintah. Hati mengeluh kepada mata berharap mata akan bersimpati dan setidaknya air mata jatuh memebelanya, tapi ternyata sang hati terlalu berharap lebih, jangankan air mata yang keluar untuk berkedippun kelopak mata ogah melakukannya. Sang hati mengeluh kepada jiwa, siapa aku ini? Kenapa tidak ada yang mendengarkanku? Kenapa tidak ada yang memahami. Kenapa aku merasa bukan pada tempatnya? Mengapa waktuku berhenti sedangkan waktu orang lain terus berlari?? Aku tertinggal di belakang, tertinggal sangat di belakang bahkan jauh dibelakangnya bayang bayang. Apa yang harus aku lakukan?? Si hati terus menjerit menunggu sampai kapan dia dimengerti oleh yang lain. Hati lelah, frustasi, marah, bingung tapi tak ada yang dapat dia lakukan.