Senin, 22 Juni 2015

?

Hanya kecewa pada diri sendiri kenapa harus banyak penyesalan yang sering terucap? Dan kenapa hanya ketidakmampuan yg jadi penghalang? Dan kenapa mengeluh jadi pilihan dari semua pilihan? Kenapa aku tidak berjuang? Mengapa? Mengapa? Mengapa?

Jumat, 19 Juni 2015

Kau tak akan tau bagaimana cara takdir menyapamu.

Sudah hampir satu tahun ini aku menempuh skripsi di salah satu universitas negeri di jawa timur. Udah hampir habis masa studi dan jatah beasiswaku tapi skripsi yg ku kerjakan tak kunjung usai. Masalahnya hanya ada dua yaitu malas dan tak tau harus ngapain. Walaupun hanya dua masalah tapi selama ini saya cukup di buat pusing dan stres gara gara masalah itu. Teman teman yang satu persatu meninggalkan kampus, keluarga, tetangga, dan kerabat yang selalu bertanya kapan wisuda? Ditambah lagi gelar senior di tempat kosan yg semakin lama rasanya semakin menakutkan, gimana gk menakutkan jika statusnya hampir mendekati mahasiswa abadi?? Beberapa tekanan dari sana sini yg membuatku semakin mendekati gila. Lalu minggu lalu kuputuskan untuk pulang kerumah padahal deadline sebelum libur lebaran udah mepet banget. Tapi aku tak peduli. Aku ingin pulang lama dan ngelupain namanya skripsi, aku pengen tenang pikirku. Memang kepulanganku saat ini aku benar2 melupakan skripsiku namun aku belajar beberapa hal tentang hidup ketika aku di pertemukan satu persatu dengan teman di masa laluku. Berawal dari undangan teman SMP yang menikah, aku bertemu dengan teman teman SMPku yang lain. Mereka kini sudah banyak berubah, ada yg galau skripsi sepertiku, ada yang bingung dilamar 2 cowok sekaligus, ada yg bingung karna belum ada yg nglamar (seperti aku), ada yg bingung harus kerja apapun untuk memenuhi kebutuhan, ada yang sudah menikah dan ada yang omongannya gk bisa kumengerti karna mereka sudah berumah tangga dan memiliki buah hati. Aku sendiri terdiam, selama ini aku kemana? Kenapa hanya aku yg terlihat paling tak dewasa disini? Mengapa hanya aku yang tak memikirkan tentang berkeluarga suatu saat nanti? Dan kenapa hanya aku yang tak mengerti apa yang mereka bicarakan? Dari situ aku paham satu hal. Aku terlalu fokus terhadap satu masalah, hingga aku lupan bahwa aku memiliki satu masalah lain "bagaimana dengan jodohku? Apakah aku sudah sesiap itu?
Lalu di lain kesempatan aku juga bertemu dengan sahabat kecilku, tetanggaku, teman bermain, teman ngaji yang sudah 6 tahun tak bertemu. Dia baru pulang dari merantau ke negri orang lain, alasannya ingin menghidupi keluarga tapi yang terjadi ketika dia pulang dia tak bisa mempertahankan kehidupan rumah tangganya sehingga berakhir dengan perpisahan. Dari cerita ini aku berpikir lagi "sudah siapkah aku untuk menjadi perhiasan bagi keluargaku? Sudah mampukah aku menjadi perisai, pelindung dan penyejuk bagi rumah tanggaku kelak?"
Dan terakhir aku ketemu dengan teman lamaku juga dia teman kecilku yang sudah berumah tangga dan memiliki putri yang berusia 3 tahun. Dia bercerita ekonomi sekarang sulit, dia kerja apapun demi membantu perekonomian keluarga kecilnya, dia rela siang hari kerja keliling untuk menjual dagangannya. Di sore hari dia bersama suaminya membuka lapak gorengan disalah satu tempat yang agak jauh dari rumahnya. Akibatnya alasan mereka untuk bekerja keras juga merupakan pengorbanan yang harus mereka relakan yaitu waktu bersama anak. Mereka melawatkan banyak waktu untuk melihat pertumbuhan anaknya. Lalu aku berpikir lagi. "Sudah siapkah aku baik secara mental dan finansial menghidupi keluargaku kelak? Sudah bisakah aku setegar, sekuat dan setangguh teman kecilku?"
Jika diruntut dari ketiga pertanyaanku diatas aku masih belum layak untuk semuanya, aku masih kalah dengan satu masalah. Hanya karna skripsi aku sudah mengeluh terlalu lama, dan terlalu lemah untuk masalah yang tak ada apa apanya. Mungkin ini salah satu alasan mengapa di usiaku yang hampir mendekati angak 23 tapi belum ada satupun jodoh yang mendekatiku. Karna ALLAH menyiapkan hadiah untuk orang yang selalu sabar dan belajar dari semua keadaan. Dipikir nikah enak?? Nikah bukan hanya untuk kamu, ada orang lain yang menjadi tanggung jawab dari keputusanmu. So pikir2 lagi buat kamu yang bilang "mending nikah aja gini mah" karna kamu gk akan tau gimana cara takdir menyapamu. Tetap belajar dari apapun kapanpun dan dimanapun.

Jumat, 12 Juni 2015

Dream Project "Nama"

Hari jum'at legi sekitar tengah hari yang terik di saat para kaum muslim sedang khusuk melaksanakan ibadah sholat jum'at. Bayi kecil berjenis kelamin perempuan itu lahir kedunia. Perasaan haru, bahagia, lega dirasakan seluruh anggota keluarga yang ikut mendampingi sang ibu kala itu. 18 desember 1992 bayi itu dilahirkan ditengah tengah keluarga sederhana di sebuah desa yang cukup jauh dari hiruk pikuk dunia. Bayi itu memiliki 4 orang kakak. Kakak pertama adalah perempuan yg kala itu berumur 14 tahun, kakak ke-2, 3, dan 4 adalah laki laki yang masing2 berumur 12 tahun, 7 tahun, dan 4 tahun. Sang kakak ketiga berjalan mendekati ibunya yang sangat penyabar dan dia berbisik dengan polosnya
"Adek di beri nama Desy indriani ya buk? Kan lahirnya bulan desember"
Sang ibu hanya tersenyum. Lalu kakak kedua mendekat dan berkata "I'is dahlia aja biar keren buk".
Sang ibu tersenyum dan berkata "kalau kasih nama yang ada artinya biar bisa jadi penolong di hari akhir, kan nama adalah do'a".
Lalu sang kakak pertama mendekat "bagaimana kalau khusnul khotimah? Artinya akhir yang baik. Jadi semua berharap dan berdo'a apapun yang dilakukan adek akan berakhir dengan baik" sang kakak pertama memberi penjelasan yang berapi api dan disambut antusias ketiga adik lelakinya. Sang ibu tersenyum puas. "Kita tunggu bapak pulang dari sholat jum'at dulu ya? Baru kita putuskan bersama"
Dan akhirnya ketika sang ayah dari bayi itu datang, sebuah nama telah menjadi kesepakatan keluarga tersebut. "Khusnul Khotimah" nama yang akan menjadi simbol dan do'a di seumur hidup sang bayi tersebut.
Sampai saat ini ketika bayi tersebut berumur 22 tahun nama tersebut telah menjadi bagian dari hidupnya, dan bagian dari masa depannya.

Miracle that's true?

Pernah dengar kata keajaiban? Pernah bahkan sering mungkin. Bagaimanapun setiap bagian dari hidup kita adalah bagian dari keajaban itu sendiri. Berawal dari seoarang anak yang tak pernah mempunyai mimpi sama sekali sampai menjadi seseorang yang dipenuhi banyak mimpi. Dulu jangankan untuk bermimpi, membayangkan jadi apakah diriku kelak aku tak berani. Alasan klise "Biarkan takdir yang membawamu" tapi seiring dengan berdetiknya jam di dinding dan berputarnya matahari di langit. Perlahan lahan aku mulai mengumpulkan keberanian untuk bermimpi. Tak ada yg salah apabila kita punya mimpi asal kita tak larut kedalam mimpi. Jika mimpi itu menjadikan kita lebih baik why not? Dimulai dari seuantai do'a satu persatu keajaiban itu muncul perlahan membentuk puzzle yang mulai nampak arahnya.
Percayalah Mimpi milik semua orang, dan ALLAH sang pembuat mimpi itu jadi kenyataan.